Kabut pagi masih menyelimuti hutan pinus lereng Merapi, ketika dua sosok samar tersaput kabut tampak berjalan beriringan menyusuri jalan berbatu, yang sengaja ditata untuk memudahkan orang menikmati keindahan lereng Merapi.
Dilihat dari bentuk fisiknya, mereka lelaki dan perempuan, ah…pastilah itu pasangan yang sedang jatuh cinta, kebahagiaan terpancar dari wajah mereka.
Aku mengawasi pasangan tersebut berjalan mendekat kearahku, aku diam tak bergerak, tersembunyi diantara pohon-pohon pinus.
Percakapan mereka samar-samar mulai terdengar , perempuan itu cantik, tubuhnya langsing ditopang oleh kaki yang jenjang, kulitnya putih bersih, rambut hitamnya tergerai sebahu. Kombinasi yang mematikan, membuat setiap pria menengok dua kali bila berpapasan dengannya.
Mereka akhirnya berhenti di dekatku, cukup dekat untuk-ku mendengar percakapan mereka.
Si cantik itu berkata, “aduh…, berhenti dulu yach, aku capek nih.”
“ Yach.. baru segitu aja capek.. “ laki-laki menyahut dengan nada menggoda. Sekarang aku bisa dengan jelas melihat sosok laki2 itu, kulitnya coklat ditempa matahari dengan perawakan tinggi besar, alis tebal dan hidung yang mancung menghiasi wajahnya, jelas peranakan arab, cukup tampan. Pasangan yang serasi. “ ya udah klo capek berhenti sini aja dulu.” Laki2 itu menyarankan. Kicau burung di pucuk pinus terdengar indah dalam keheningan dan hangatnya mentari pagi lereng merapi.
“ Aku sebenarnya suka menghabiskan waktu bersama mu.” Tiba-tiba perempuan cantik itu berkata setelah hening sesaat. “ Tapi kita kan tidak bisa terus begini,” Sambungnya.
“ Tanya saja hatimu, kamu merasa lebih bahagia dengan siapa?” laki2 itu menyahut datar.
“Ya pastinya denganmu, hanya kamu yang bisa membuatku merasa hidup, keceriaanmu membuat hariku semakin indah, tapi hubunganku dengannya baik-baik saja, tidak ada masalah, masak sih, tidak ada angin tidak ada hujan, aku tiba-tiba minta putus, apa alasanku nanti?” desah perempuan itu seperti berbicara pada dirinya sendiri. Aku masih bersembunyi ditempatku, kelihatannya mereka sedang membicarakan masalahnya, sehingga tidak menyadari kehadiranku disana, menguping mereka.
“Sebetulnya masalahnya sederhana saja, yaitu, aku datang terlambat.” Laki2 itu menyahut.
“Misalkan aku mengenalmu lebih dulu daripada dia, pastilah kamu akan menjadi kekasihku dari dulu sampai sekarang ini, am I right my dear?” Lagi pula, itulah gunanya pacaran, untuk saling mengenal dan mencari pasangan hidup yang cocok, putus adalah konsekuensi dari sebuah hubungan, bukankah kita harus mencari yang terbaik dalam hidup ini?” “ sampaikan saja terus terang, aku kira dia akan mengerti.” Laki-laki itu mencoba menanamkan pengaruhnya.
“Oke..oke…besok aku akan minta putus darinya, so.. kita gak perlu lagi sembunyi-sembunyi.” Perempuan itu akhirnya mengambil keputusan.
Keputusan yang membawa luka yang mendalam dua tahun kemudian.
Mereka berpelukkan, tangan laki-laki itu mengusap-usap punggung kekasihnya, seperti ingin menenangkan kegalauan hatinya. Mata laki-laki itu menatapku, tiba-tiba ia mengeluarkan pisau lipat dari sakunya dan berjalan mantap kearahku. Oh tuhan.., aku ketahuan….aku berdiri mematung, jantungku berdebar keras…..oh..tidak…!“
Auggh…augh…aku menjerit ketika pisau itu mulai menusukku, menggurat kulitku, batang dan cabangku bergetar keras menahan sakit, ya Allah, sekarang aku menjadi pinus yang cacat , tulisan I ♥ U tergurat jelas di kulit batangku, manusia memang tidak pernah belajar, bahwa merusak alam akan membawa kerusakan pada diri mereka sendiri.
“ aku capek nih …gendong ya ?” si cantik dengan sigap melompat ke punggung kekasihnya, dengan riang mereka melanjutkan perjalanan. Aku tetap disini, menerima dan terluka.